Pola pola Hereditas dalam Ilmu Genetika

Hereditas - Apakah Anda belajar tentang ilmu genetika? Ilmu genetika mempelajari tentang pewarisan sifat dari induk kepada keturunan berdasarkan metode yang telah ditentukan. Salah satu contohnya adalah ketika orang tua Anda memiliki rambut ikal, maka tidak semua anak akan mempunyai rambut ikal. Nah, kasus seperti inilah yang akan kita pelajari tentang sifat pewarisan orangtua ke anaknya, apakah berasal dari kedua orantua atau salah satu dari ayah atau ibu.

Perlu diketahui bahwa pada setiap proses perkawinan, tidak semua sifat yang ada pada induk atau orangtua diwariskan kepada anak-anaknya. Menurut ilmu genetika, seperti bentuk rambut yang dihasilkan adalah interaksi gen yakni fenotipe (penampakan), dan interaksi gen di dalam tubuh disebut genotype (penyebab penampakan sifat). Agar lebih jelasnya, mari simak penjelasan berikut mengenai pola-pola hereditas dalam ilmu genetika.
Pola pola Hereditas dalam Ilmu Genetika
pixabay.com

Hukum Mendel

Pewarisan sifat pertama kali dipelajari oleh Gregor Johann Mendel (1822–1884). Mendel mulai melakukan percobaan pewarisan sifat pada tanaman ercis  (Pisum sativum). Di dalam percobaanya, Mendel menunjukan perihal dari data yang diperoleh dan menemukan suatu keteraturan jumlah perbandingan di setiap sifat yang dikawinkan dari tanaman ercis tersebut. Mendel akhirnya merumuskan hipotesis jika sifat yang ada pada organism akan diturunkan secara bebas, atau dikenal dengan istilah Hukum I Mendel.

Monohibrid

Persilangan monohibrid adalah persilangan yang menggunakan satu jenis gen berbeda atau menggunakan satu tanda beda. Cirinya yakni a pasangan gen di dalam kromosom homolognya akan berpengaruh terhadap suatu sifat.

Mendel mengawinkan bunga ercis berwarna ungu dengan bunga ercis berwarna putih. Perkawinan induk tersebut dinamakan dengan parental (P). Hasil perbandingan anakan yang didapatkan disebut dengan filial (F). Hasil perkawinan pertama merupakan seluruhnya mempunyai mempunyai warna bunga ungu. Rupanya tumbuhan kacang ercis sesama bunga ungu, kemudian dikawinkan akan sesamanya dan diperoleh hasil 3 bunga ungu berbanding 1 bunga putih.

Contoh lainnya, yaitu rambut lurus adalah sifat resesif. Dari proses perkawinan orangtua yang kedua berambut keriting heterozigot, lantas berapa kemungkinan perbandingan anak-anaknya? Yaps, pada beberapa kasus terdapat gen sealel yang tak dominan terhadap lainnya, dan keadaan ini dikenal dengan dominan tidak penuh. Pada dominan tersebut, maka individu heterozigot mempunyai fenotipe percampuran dari kedua sifat fgen sealel dan disebut intermediet.

Dihibrid

Persilangan dihibrid adalah persilangan yang menggunakan dua tanda beda atau dua pasangan kromosom yang memang berbeda. Dalam percobaan kacang ercis, Mendel melihat beberapa sifat kacang ercis yang disilangkan akan muncul dalam generasi selanjutnya. Kemudian Mendel mulai menyilangkan dua sifat beda, misalnya kacang ercis biji bulat warna kuning dengan biji kisut warna hijau.

Perumpamaan kacang ercis biji bulat adalah BB dan kacang ercis biji warna kuning adalah KK, maka kacang ercis biji bulat warna kuning adalah BBKK dan kacang ercis biji kisut warna hijau adalah bbkk. Dari hasil persilangan parental kacang ercis biji bulat warna kuning (BBKK) dengan kacang ercis biji kisut warna hijau (bbkk), warna kuning seluruhnya (BbKk). Metode ini menghasilkan perbandingan fenotipe 9/16 biji bulat kuning, ¾ biji bulat hijau, 3/16 biji kisut kuning, dan 3/16 biji kisut hijau.

Hukum II Mendel

 Pada persilangan antara organisme heterozigot dengan dua pasang gen, maka kombinasi perbandingan adalah 9:3:3:1. Dari percobaan, Mendel menemukan bahwa setiap sifat dari kedua induk diturunkan secara bebas dan tidak terikat dengan sifat lainnya, sehingga Mendel menamakan hukum pemisahan bebas dengan sebutan Hukum II Mendel. Apabila terdapat dua individu yang berbeda dalam dua sifat atau lebih, maka sifat yang satu akan diturunkan tidak tergantung pada pasangan sifat aslinya.

Sebagai ilustrasi, pada percobaan lainnya Mendel mengawinkan antara tanamna ercis batang tinggi biji bulat dan tanaman ercis batang pendek biji kisut. Hasil keturunan F1, semuanya berbatang tinggi dengan biji bulat. Pada kebanyakan kejadian, ilmuwan memperoleh jumlah perbandingan anakan F2 yang berbeda dari perbandingan jumlah umum yang ditemukan Mendel.

Perbandingan tersebut  misalnya (15 : 1), (12 : 3 : 1 ), (9 : 3 : 4), atau (9 : 6 : 1). Akan tetapi, perbandingan tersebut adalah kombinasi dari perbandingan genotype yang ditemukan Mendel dengan perbandingan 9:3:3:1. Beberapa perbandingan lain yang ditemukan sebagai hasil dari perkawinan organisme dengan dua sifat beda disebut dengan penyimpanan semu Hukum Mendel.

Demikian informasi mengenai pola-pola hereditas yang harus Anda pahami betul, terutama Hukum Mendel yang memang sering keluar di pelajaran sekolah maupun ulangan semester. Jika Anda penasaran akan pewarisan sifat, tidak ada salahnya melakukan percobaan sendiri dengan menyilangkan tanaman ercis sesuai contoh ilustrasi diatas, kemudian cocokkan dengan Hukum Mendel apakah sama atau tidak.

Belum ada Komentar untuk "Pola pola Hereditas dalam Ilmu Genetika"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel