Pengertian Riya selamat jika anda sudah tahu kebenarannya

Pengertian Riya - Pernahkan terbenak dalam pikiran kita ketika melihat orang yang cenderung menggunakan perhiasan-perhiasan mahal di depan publik itu dinilai sebagai tindakan pamer atau riya? Atau juga pada saat memberi donasi yang nilai nominalnya jauh lebih tinggi dibandingkan lainnya dengan mempublikasikannya di depan umum? Itu semua termasuk tindakan riya atau pamer di depan banyak orang yang seakan-akan lebih hebat dibanding lainnya. Lantas apa yang dimaksud dengan riya? Pada artikel ini akan dibahas mengenai pengertian riya yang akan dijelaskan secara lengkap.

Pertama-tama akan dijelaskan terlebih dahulu apa maksud dari riya. Pengertian riya adalah sesuatu yang dengan sengaja memperlihatkan atau memamerkan secara langsung bahkan tak langsung kepada orang banyak, seperti memamerkan perhiasan yang dikenakan di tangan atau leher serta mengenakan tas-tas yang dinilai sangat mahal. Istilah riya sendiri berasal dari bahasa Arab dari kata “ru’yah” yang artinya adalah melihat. Dengan demikian, makna dari riya sendiri adalah seseorang yang ingin sekali mendapatkan pujian dari kebanyakan orang atas apa yang dilakukannya atau dimilikinya. Tentunya dalam ajaran agama, riya merupakan perbuatan yang tercela serta juga dianggap syirik kecil. Menurut Imam Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam buku kitabnya Fathul Bari menjelaskan riya merupakan ibadah yang dilakukan oleh sebagian orang dengan tujuan dan maksud tertentu supaya bisa dilihat oleh kebanyakan orang yang menyebabkan orang tersebut mendapatkan pujian sebesar-besarnya (memperoleh ketenaran serta keuntungan secara duniawi).
Pengertian Riya selamat jika anda sudah tahu kebenarannya

Dalam agama Islam, terdapat hukum-hukum sifat dalam riya diantaranya:

  1. Riya bersifat haram

Hukum yang satu ini tidak tidak membuat sebuah amal ibadah menjadi rusak, melainkan amal ibadah tetap dinilai sah. Maksudnya begini, jika kita sedang melakukan sholat akan tetapi memperlihatkan kekhusyu’an sholat, maka itu dianggap memenuhi syarat dan rukunnya atau sah nilai ibadahnya sekaligus berdosa. Riya dalam sifat ini jelas dilarang seperti apa yang sesuai dengan dalil menurut firman Allah SWT. Berbunyi:



فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ. ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ.  ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ

Artinya adalah: Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang mengerjakan shalatnya dengan lalai dan riya dengan amal mereka dan enggan meminjamkan barang yang berguna. 

  1. Riya yang dinilai boleh

Dalam hukum ini, riya yang dinilai boleh adalah dalam hal mengajar serta mendidik yang lainnya agar bisa mengikuti jejaknya dalam berbuat baik. Sebagai contoh, ketika seorang guru agama mengajarkan para muridnya untuk melakukan cara sholat yang baik dan benar sehingga murid-muridnya ini bisa melakukan cara yang benar sesuai apa yang dipraktekkan oleh gurunya sendiri. Dalam contoh tersebut, tentu apa yang dilakukan oleh guru agama sangat baik dan benar.

Menurut pernyataan Imam Al-Ghazali, perbuatan riya terdiri dari 5 kategori diantaranya:

  1. Dalam masalah agama, misalnya badan terlihat lebih kurus serta pucat agar dinilai banyak orang rajin melakukan ibadah puasa serta shalat tahajud.

  2. Dalam penampilan tubuh serta pakaian, misalnya selalu mengenakan pakaian koko agar terlihat lebih soleh.

  3. Dalam perkataan, misalnya selalu mengucapkan hal-hal yang berhubungan tentang agama agar dinilai banyak orang pintar dalam hal agam.

  4. Dalam perbuatan, misalnya pergi umroh atau haji secara berkali-kali agar citra di depan masyarakat semakin terangkat.

  5. Dalam persahabatan, misalnya seseorang selalu mengikuti ustadz kemanapun ustadz pergi agar dinilai banyak orang sebagai orang alim.

Jika melakukan riya seperti yang termasuk dalam kategori-kategori ini, maka nilai ibadah yang kita lakukan selama ini menjadi sia-sia karena melakukan riya tersebut. Untuk mengetahui mana yang melakukan riya atau tidak bisa dilihat dari ciri-ciri tersebut diantaranya:

  1. Pantang melakukan perbuatan positif jika tidak dilihat banyak orang.

Kalau yang seperti ini mungkin sudah banyak yang melakukannya. Maksudnya adalah seseorang mau saja melakukan hal-hal yang dinilai baik jika ada orang yang melihat apa yang dilakukan tersebut.

  1. Sering mengungkit-ungkit kembali apa amal baik yang dilakukannya sebelumnya.

Yang satu ini tentu jelas salah. Biasanya, pasti ada tujuan tertentu untuk melakukan hal ini atau juga ada yang berharap imbalan karena amal baik yang dilakukannya itu. Dengan demikian, amal baik tersebut sama saja dianggap tidak tulus. Contohnya, ketika seseorang menolong temannya dengan memberikan uang dengan niat tulus, namun tiba-tiba saja temannya ini ditagih orang yang menolongnya itu.

  1. Hanya ikut-ikutan melakukan amal atau ibadah.

Untuk yang satu ini tentunya tidak baik dilakukan, lebih baik jangan hanya ikut-ikutan saja dalam melakukan amal atau ibadah, melainkan diterapkan seterusnya hingga seumur hidupnya.

  1. Ingin mendapatkan pujian setelah melakukan perbuatan baiknya.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, melakukan perbuatan baik terhadap seseorang dengan mengharapkan pujian jelas salah. Akibatnya, perbuatan baik yang dilakukannya jelas sia-sia dan tidak ada nilai ibadahnya.

  1. Semakin termotivasi ketika dipuji orang dalam beribadah, namun seringkali gampang menyerah ketika dicela orang.

Dalam hal ini, sebaiknya janganlah mendengarkan apa kata orang tentang tindakan yang kita lakukan. Oleh karena itu, yang paling penting adalah terus lakukanlah perbuatan-perbuatan baik yang menurut agama itu benar.

Dari perbuatan riya itu sendiri terdapat beberapa kerugian yang akan dialami, diantaranya:

  1. Selalu merasa tidak puas apa yang telah dilakukannya.

  2. Selalu merasa gelisah ketika ingin melakukan sesuatu.

  3. Dapat merusak nilai kebaikan serta pahala ibadah.

  4. Mengurangi rasa kepercayaan atau juga simpati dari orang lain.

  5. Selalu menyesal ketika perbuatan baik yang kita lakukan tidak dilihat oleh orang lain.

Demikianlah penjelasan mengenai pengertian riya yang sudah dijelaskan secara lengkap bersama poin-poinnya. Pada intinya, janganlah selalu bersikap riya di depan banyak orang karena mereka akan menilai atau berpandangan buruk terhadap orang yang suka riya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, jika ingin melakukan perbuatan baik lakukanlah secara ikhlas serta tanpa mengharapkan pujian dari orang lain. Semoga dengan adanya artikel ini bisa memahami lebih mendalam lagi apa itu riya serta bahaya-bahaya yang dialami jika selalu melakukan riya. Artikel ini sendiri diambil dari berbagai referensi yang terkait.

Belum ada Komentar untuk "Pengertian Riya selamat jika anda sudah tahu kebenarannya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel