Cara Membaca Naskah Pidato Kemerdekaan 17 Agustus

Pidato biasanya di lakukan hanya orang-orang tertentu. Jika tidak seorang tokoh, pemimpin atau pejabat negara maka jarang sekali kita bisa melihat orang maju untuk berpidato. Akan tetapi tidak jarang seorang tokoh desa seperti ketua RT sampai kepala desa yang melakukan pidato di lapangan desa untuk kegiatan tertentu demi kemajuan desa dan kerukunuan warga. Berbeda dengan pidato yang biasa di lakukan oleh masyarakat di desa yang pada umumnya, untuk memperingati hari kemerdekaan RI juga kerap melakukan pidato yang berisikan tentang belajar sejarah, pemberian semangat, dan pidato yang berisikan motivasi lainnya yang bertujuan persatuan dan kemajuan negara. Pidato kemerdekaan biasa di laksanakan pada upacara 17 Agustus bersama-sama dengan peserta upacara lengkap dengan segala petugas pelaksananya.
Cara Membaca Naskah Pidato Kemerdekaan 17 Agustus
pixabay.com

Tidak jarang di setiap lembaga atau kantor, melaksanakan upacara sakral yang hanya ada sekali dalam satu tahun. Tidak hanya membahas tentang masalah kenegaraan saja, para tokoh atau pemimpin yang di beri kepercayaan penuh menjadi pemimpin dalam suatu lembaga di berikan mandata untuk berorasi formal. Di sana para pemimpin dan atasan bisa jadi mengemukakan isu atau membahas tentang masalah yang sedang hangat dan menjadi bahan perbincangan publik. Mereka mengatakan sebuah pendapat, memberikan gambaran, menyampaikan solusi dan hingga berbicara mengenai persoalan lembaga yang sedang di embannya. Nah permasalahannya tidak mudah untuk menjadi pembicara atau berpidato di depan khalayak umum meskipin sudah di bekali sebuah naskah atau teks tertulis. Hal ini bertujuan supaya apa yang di kemukakan pada saat berpidato bisa di dengar dan di fahami oleh seluruh pasukan upacara.

Berikut ini adalah cara membaca naskah pidato kemerdekaan untuk para pemimpin dan kepala instansi di manapun berada, antara lain adalah :

Membaca naskah dengan intonasi yang baik dan benar

Naskah adalah semua jenis dokumen yang di tulis dengan cara di ketik, di cetak atau dengan cara di tulis tangan. Naskah adalah salah satu media dalam aktivitas berpidato. Dalam hal ini orang yang di percayakan membacakan naskah pidato kemerdekaan sudah membawa bekal dan selanjutnya hanya membaca dan mengikuti kalimat pada naskah. Namun dalam membaca naskah pidato tidak boleh sembarangan, kita juga membutuhkan intonasi pembacaan yang baik dan benar. Terutama saat membaca naskah pidato tentang kenegaraan tidak boleh asal-asalan, karena akan menyangkut martabak kita sebagai pemimpin atau ketua lembaga tertentu. Kita bisa melihat presiden pertama Republik Indonesia yaitu IR. Soekarno ketika berpidato dengan membaca naskah sangat mudah di resapi dan di fahami. Intonasi yang baik dan benar IR. Soekarno memang banyak di kagumi oleh para pelajar karena cukup memukau dan menginspirasi.

Menguasai naskah pidato

Selain membaca dengan intonasi yang benar, kita juga harus menguasai naskah pidato. Maksud daripada menguasai naskah pidato adalah kita harus menyampaikan naskah tanpa ada kata atau kalimat yang keliru baik terutama dalam pengejaan kalimat. Bisa jadi karena tergesa-gesa dan ingin segara mengakhiri pidato sehingga menyebabkan pembacaan naskah pidato menjadi di ulang-ulang karena sering salah membaca. Penyebab lain penyebab gagal atau salahnya pembacaan naskah karena kurangnya persiapan dan spontanitas dari panitia penyelenggara upacara kemerdekaan. Tidak jarang para pemimpin atau kepala yang berhalangan hadir, lalu kita di berikan mandat sebagai pengganti atau wakil dari pembicara. Ini harus benar-benar di perhatikan karena pidato kali ini buka pidato biasa, namun pidato kemerdekaan Indonesia yang merupakan suatu kegiatan yang wajib dan sakral ditanah air.

Menggunaknan gerakan-gerakan santai yang humoris

Berpidato pada saat upacara kemerdekaan tengah berlangsung memang harus di laksanakan dengan hening dan hikmat. Namun sebagai pemimpin atau kepala instansi yang di percaya untuk membaca teks pidato upacara, maka tidak ada salahnya membaca pidato dengan santai, luwes dan penuh keceriaan. Dalam hal ini di maksudkan agar pasukan upacara yang hadir dalam upacara tidak bosan dan tetap semangat mengkawal upacara dari awal sampai penutupan. Kita bisa melihat presiden Jokowi yang kerap menambahkan gurauan atau menggunakan kata-kata yang bersifat humor kepada pasukan upacara atau kepada staff kementrian pada saat meeting kenegaraan. Presiden tidak jarang membuat suasana istana negara menjadi hangat dan akrab karena menambahkan pendeskripsian di luar dari naskah pidato yang beliau baca.

Memandang ke seluruh penjuru pasukan upacara

Kita saat berpidato tidak boleh terpaku dan fokus membaca naskah. Hal ini apa yang kita bacakan tidak akan tersampaikan oleh pasukan upacara. Sebagai pembaca naskah pidato kemerdekaan negara, kita harus bersikap tegas, semangat, dan bijaksana dalam membaca dan bersikap di atas panggung utama upacara. Namun selain itu, sesering mungkin kita harus berkontak mata dengan cara memandang seluruh pasukan upacara sebagai bukti kita membutuhkan mereka, sebagai bukti negara Indonesia butuh masyarakat yang tidak lain adalah pasukan upacara untuk memajukan negara ibu pertiwi. Para pasukan upacara juga akan semangat melaksanakan upacara kemerdekaan sampai selesai dengan perasaan puas, bangga dan penuh harapan. Memandang ke seluruh penjuru pasukan upacara juga bisa di jadikan sebagai perasaan empati pemimpin sekaligus penuh harapan kepada staff atau bawahannya.

Membaca naskah pidato tidak harus sama persis dengan bacaan

Meskipun kita sudah di bekali sebuah naskah pidato, bukan berarti kita bisa sepuasnya membaca tanpa memberikan makna atau gambaran yang terdapat pada naskah pidato yang kita baca. Di dalam naskah pidato terdapat 3 hal penting yang berisikan kalimat pembuka pidato, kalimat pidato yang merupakan kalimat inti pidato, dan yang terakhir adalah kalimat pentutup. Dalam naskah pidato terutama pada bagian inti naskah terdapat suatu kalimat yang wajib kita baca dengan cara jelas, karena bacaan atau kalimat tersebut merupakan inti daripada pelaksanaan upacara kemerdekaan Indonesia. Namun kita juga bisa menambahkan catatan lain yang sudah kita simpan dalam otak dan pikiran. Kita bisa mengungkapkannya setelah menyampaikan bacaan inti dari naskah pidato kemerdekaan selesai. Jadi membaca naskah pidato pada pelaksanaan upacara kemerdekaan tidak selalu sama persis dengan apa yang kita baca. Kita bisa menyampaikannya dengan cara yang berbeda tanpa harus menghilangkan atau mengurangi inti dari pada pesan naskah tersebut.

Para pelajar yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah atas (SMA) yang bercita-cita menjadi pembicara bisa belajar dari sekarang agar impiannya dapat tercapai. Tidak sedikit pemimpin yang pandai berorasi di depan publik karena sudah memiliki bakat dan keahlian berpidato sejak masih belia. Maka dari itu belajarlah melatih mental dari sekarang agar kelak bisa menjadi seorang tokoh pembicara yang menginspirasi tanah air dan dunia. Sekian artikel tentang cara membaca naskah pidato kemerdekaan. Terima kasih.

Belum ada Komentar untuk "Cara Membaca Naskah Pidato Kemerdekaan 17 Agustus"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel