PERNIKAHAN : Pengertian, Tujuan dan Syarat Pernikahan Islam

“Kapan nih kamu nikah? Bukannya lebih baik bersegera dalam ibadah?

Kayaknya dipending dulu nih, dana belum cukup buat beli ini dan itu.”



Pernikahan - Sebenarnya Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan kepada setiap hambanya untuk beribadah. Menikah adalah ibadah, maka Allah SWT pun memberi kemudahan bagi mereka yang siap menyempurnakan separuh agamanya. Tapi banyak para pemuda dan pemudi muslim merasa kesulitan mencapai ibadah ini, sehingga terlahirlah satu ujaran, “Nikah Itu Mahal!” Benarkah demikian?

Pernikahan menjadi satu moment tak terlupakan bagi pasangan yang mengikat kebersamaannya dalam sebuah akad. Satu dari banyaknya fase kehidupan yang dilalui oleh manusia di dunia. Setidaknya setiap manusia akan melalui fase ini bersama pasangannya. Pernikahan dianggap sebagai pembaruan kehidupan manusia, sebuah ikatan yang terjalin antara seorang laki-laki dan perempuan, dimana terdapat kesanggupan untuk hidup bersama membangun mahligai rumah tangga. Mereka memiliki dua keluarga besar yang dipersatukan kemudian sama-sama bersedia meneruskan garis keturunannya.

PERNIKAHAN  Pengertian, Tujuan dan Syarat Pernikahan Islam


Islam mengajarkan bahwa pernikahan termasuk ke dalam perbuatan yang mulia, karena seperti menyempurnakan setengah agamanya sendiri. Kegiatan sakral yang dilalui oleh pasangan yang hendak melepas masa lajangnya menuju pasangan yang berumah tangga. Pernikahan menjadi penyelamat bagi pemuda-pemudi muslim untuk menjauhkan diri dari akhlak tidak terpuji dan sekaligus keji.

Pengertian Pernikahan -

Baginda Nabi SAW pernah bersabda dalam hadistnya bahwa nikah menjadi salah satu ajaran dari Sunnahnya, apabila seseorang membenci akad pernikahan maka orang tersebut tidak termasuk ke dalam golongan umatnya. Akan tetapi beliau juga menambahkan dalam hadits yang lain, anjuran menikah bagi siapa saja yang mampu untuk menikah dan terpenuhinya syarat nikah. Sedangkan tidak dianjurkan bagi seseorang yang belum mampu untuk menikah. Maka berpuasa adalah benteng terbaik baginya.

Pernikahan adalah pertalian yang sah antara laki-laki dan perempuan melalui sebuah perjanjian suci. Setidaknya, janji atau akad tersebut tercatat sah secara agama dan negara. Kemudian pasangan tersebut memiliki peran baru sebagai pasangan yang menikah yakni suami dan istri. Sehingga di dalam mengarungi kehidupan berumahtangga terdapatpembagian antara hak dan kewajiaban suami istri menurut agama dapat dilaksanakan dengan baik.

Pernikahan di dalam islam diatur sedemikian rupa, berdasarkan Al-qur’an yang diperkuat dengan Hadits Nabi SAW. Peraturan dari awal sampai ke proses sakral pernikahan tidak dapat dilaksanakan dengan sembarangan. Semua peraturan tersebut diatur secara terperinci di dalam buku karangan ulama  atau ilmuan muslim. Kemudian disusun secara rapi di dalam undang-undang islam yang bernama Kompilasi Hukum Islam (KHI). Pasal tentang pernikahan menjadi salah satu pasal dari banyak peraturan hukum islam yang telah diatur dengan baik di dalam KHI.

Di dalam agama islam terdapat hukum bagi pasangan yang akan menikah, yakni hukum nikah. Dibagi menjadi lima hukum yakni wajib, sunah, makruh, mubah dan haram.

  1. Wajib, seseorang wajib menikah ketika orang tersebut mengharapkan keturunan dan takut akan berbuat keji jika tidak menikah.

  2. Sunah, seseorang sunah menikah ketika orang tersebut mengharapkan keturunan dan tidak takut akan berbuat keji jika tidak menikah. Baik dia ingin atau tidak.

  3. Makruh, seseorang makruh menikah ketika orang tersebut tidak ingin menikah dan tidak mengharapkan keturunan

  4. Mubah, seseorang mubah menikah ketika orang tersebut tidak takut melakukan perbuatan keji, kemudian tidak berharap memiliki keturunan. Dan baginya tidak memutuskan ibadah yang tidak wajib.

  5. Haram, seseorang haram menikah ketika orang tersebut akan membahayakan perempuan, tidak mampu memberi nafkah atau memberikan nafkah dari pekerjaan yang haram. Meskipun orang tersebut ingin menikah dan tidak takut berbuat keji.

Tujuan Pernikahan


Setiap pasangan yang melangsungkan pernikahan dan menjadi sepasang suami istri selalu mengharapkan kebahagiaan bagi keduanya. Pada hakikatnya pernikahan adalah rumah kebahagiaan bagi setiap pasangan yang menikah. Mereka memiliki tujuan untuk memperoleh keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Apa artinya? Mari kita jelaskan dengan lebih baik berikut ini:

1.Pernikahan Sakinah

Tujuan pernikahan yang pertama adalah memiliki keluarga yang Sakinah. Sakinah  berarti ketenangan. Pasangan yang menikah berharap memiliki keluarga yang tentram dan menenangkan. Terdapat kecenderungan atau saling memberikan rasa nyaman diantara keduanya. Sehingga dapat menjaga kesucian hati dan terhindar dari perbuatan yang keji.

  1. Pernikahan Mawaddah

Tujuan pernikahan yang kedua adalah memiliki keluarga yang Mawaddah. Pernikahan Mawaddah berarti pernikahan yang di dalamnya terdapat rasa saling mencintai pada segala sesuatu yang bersifat jasmani atau yang terlihat oleh mata lahir.

  1. Pernikahan Rahmah

Tujuan pernikahan yang ketiga adalah memiliki keluarga yang Rahmah. Pernikahan yang Rahmah berarti pernikahan yang di dalamnya terdapat rasa saling mencintai terhadap segala sesuatu yang bersifat rohaniyah atau secara bathin.

Rukun dan Syarat Pernikahan


Rukun Nikah- Pernikahan sepasang pemuda dan pemudi muslim tidak bisa dilaksanakan, bahkan statusnya tidak sah apabila rukun dalam pernikahan tidak terpenuhi dengan baik. Rukun nikah berdasarkan Imam Zakaria Al-Anshari dalam Fathul Wahab Bi Syarhi Minhaj Al-Thalab, rukun nikah ada 5 yaitu: 1). Pengantin Lelaki; 2). Pengantin Perempuan; 3). Wali; 4). Dua Orang Saksi Lelaki; dan 5). Shighat (Ijab dan Qabul).

Syarat Sah Pernikahan – Kelima kriteria rukun nikah selanjutnya harus memenuhi syarat nikah. Supaya pernikahan yang terjadi diantara pasangan yang mengikat dalam sebuah akad benar-benar sah secara agama dan Negara. Apa saja syarat sah nikah tersebut? Mari kita simak penjelasannya berikut ini:

Syarat Calon Suami

  1. Seorang lelaki yang hendak menikahi pasangannya harus memenuhi syarat sah pernikahan yaitu:

  2. Beragama Islam

  3. Jelas dalam menentukan lelaki tertentu. (Ketika sang wali dapat menentukan siapa yang akan menikahi putrinya, melalui wali yang menyebut nama si lelaki).

  4. Tidak terdapat hubungan mahram dengan calon istri.

  5. Tidak terpaksa.

  6. Jelas dalam statusnya tentang sudah atau belumnya calon suami memiliki istri. Ketika calon suami telah beristri dikhawatirkan lebih dari jumlah yang diperbolehkan yakni lebih dari empat.

Tahu tentang halal calon istri baginya.

Syarat Calon Istri

  1. Beragama Islam

  2. Jelas dalam menentukan wanita tertentu. (Ketika sang wali dapat menentukan siapa putri yang akan ia nikahkan, melalui wali yang menegaskan siapa putrinya).

  3. Tidak dalam ikatan pernikahan lain dan tidak sedang iddah.

  4. Wanita yang bukan Khunsa

  5. Tidak terdapat hubungan mahram dengan calon suami.

Syarat Wali

  1. Beragama Islam

  2. Lelaki yang baligh dan berakal sehat

  3. Menjadi wali dengan kerelaannya sendiri

  4. Bukan dalam ihram haji atau umrah

  5. Merdeka

  6. Syarat Dua Saksi

  7. Islam

  8. Lelaki Merdeka

  9. Baligh

  10. Bisa bicara dan melihat

  11. Mengetahui bahasa dari wali dan calon suami

  12. Adil dan bukan wali dari calon istri

  13. Syarat Shighat(Ijab dan Qabul)

Pengucapan kalimat ijab dan qabul tidak mengandung sindiran dan harus ada kesesuaian kalimat yang diucapkan oleh keduanya.Ijab harus disampaikan oleh wali dengan menyebut nama calon mempelai istri. Sedangkan aabul  diucapkan oleh mempelai suami. Qabul diucapkan setelah ijab oleh wali tanpa terputus atau langsung disambung.

Walimah Nikah - Setelah akad selesai maka pasangan yang barusaja telah resmi dengan gelar terbarunya yakni suami istri. Kemudian untuk mengabarkan berita tersebut biasanya diadakan Walimah. Istilah Walimah berasal dari bahasa arab yang berarti jamuan, atau istilah yang umum digunakan di Indonesia adalah acara resepsi pernikahan. Selain jamuan berupa makanan di acara pernikahan, Walimah juga sering menjadi waktu yang tepat bagi para tamu undangan untuk memberikan do’a dan ucapan selamat bagi kedua mempelai pengantin.

Walimah menjadi syaria’at agama Islam yang harus dilaksanakan. Nabi SAW juga melakukan Walimah setelah akad pernikahan. Tujuannya adalah untuk mengabarkan pernikahan sekaligus menjamu para sahabat yang menjadi tamu undangannya. Bahkan Nabi SAW mewajibkan kepada siapapun muslim yang baru menikah untuk mengadakan Walimah. Beliau berpesan untuk melaksanakan Walimah meski hanya dengan seekor kambing. Akan tetapi tidak terdapat kewajiban untuk mengadakan Walimah diluar kemampuan dari pasangan yang baru menikah.

Walimah terselenggara dengan mengundang sahabat karib, sanak keluarga dan orang-orang yang saleh. Kemudian hukum menghadiri undangan Walimah adalah wajib, kecuali jika terdapat alasan yangmembuat seseorang kesulitan memenuhi undangan tersebut.

Penyelenggaraan Walimah harus tetap memiliki etika yang baik, bermaksud untuk bertakwa kepada Allah SWT. Walimah yang baik adalah Walimah yang tidak terdapat  unsur kemungkaran, berlebih-lebihan atau  mendekatkan pada kekufuran.

Syari’at  Islam tidak akan menyulitkan hambanya untuk beribadah.  Semuanya kembali lagi pada diri sendiri untuk menanyakan kesiapan diri melangkah menuju jenjang pernikahan.

Apakah kita masih menganggap “Nikah Itu Mahal?”

Penulis: Desiana p

Belum ada Komentar untuk "PERNIKAHAN : Pengertian, Tujuan dan Syarat Pernikahan Islam"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel