Filsafat Hukum Islam

Filsafat hukum Islam terdiri atas 3 kata, yaitu Filsafat, Hukum, dan Islam. Maka sebelum mengetahui pengertian Filsafat Hukum Islam, mari kita ketahui terlebih dahulu masing – masing arti dari tiga kata tersebut.

Pengertian Filsafat.

Dalam Dictionary of Philosophy, filsafat berasal dari dua kata, yakni philos dan sophi. Philos artinya cinta, sedangkan Sophia artinya kebijaksanaan. Filsafat sebagai pemikiran mendalam melalui cinta dan kebijaksanaan (William L.reese, 1980:43).

Juhaya S. Praja (1997:1) mengatakan bahwa secara terminologis, filsafat memiliki arti yang bermacam – macam, sebanyak orang yang memberikan pengertian atau batasan. Beliau memaparkan definisi filsafat sebagai berikut :

  1. Menurut Plato (427-347 SM), filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang ada, ilmu untuk mencapai kebenaran yang asli.

  2. Aristoteles (381-322 SM), filsafat adalah ilmu yang meliputi kebenaran, yang terkandung didalamnya ilmu – ilmu, metafisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.

  3. Alfarabi (wafat 950 M), filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud yang bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.


Pengertian Hukum.

Sebagimana yang tertera dalam Oxford English Dictionary: Hukum adalah kumpulan aturan, baik sebagai hasil pengundangan formal maupun dari kebiasaan, dimana suatu negara atau masyarakat tertentu mengaku terikat sebagai anggota atau subjeknya. Hukum adalah peraturan – peraturan tentang perbuatan dan tingkah laku manusia di dalam lalu lintas hidup.

Pengertian Islam.

Islam secara etimologi (bahasa) berarti tunduk, patuh, atau berserah diri. Adapun menurut syaria’at (terminologi), apabila dimutlakkan berada pada dua pengertian.

Pertama : Apabila disebutkan sendiri tanpa diiringi dengan kata iman, maka pengertian Islam mencakup seluruh agama, baik ushul (pokok) maupun furu’ (cabang), juga seluruh masalah ‘aqidah, ibadah, keyakinan, perkataan dan perbuatan.

Kedua : Apabila kata islam disebutkan bersamaan dengan kata iman, maka yang dimaksud dengan Islam adalah perkataan dan amal – amal lahiriyah yang dengannya terjaga diri dan hartanya baik dia meyakini islam atau tidak. Sedangkan kata iman berkaitan dengan amal hati.

A.4. Pengertian Filsafat Hukum Islam

Setelah diatas diuraikan mengenai definisi Filsafat, hukum, dan Islam maka kita akan mulai menguraikan mengenai filsafat hukum Islam. Namun, perlu dipahami dahulu apa itu filsafat hukum. Berbagai rumusan dan uraian tentang pengertian filsafat hukum telah dikemukakan oleh para pakarnya sejak dahulu sampai sekarang. Berikut ini dikutip beberapa rumusan dan uraian yang dimaksud.

Soetikno merumuskan,” Filsafat hukum mencari hakikat daripada hukum yang menyelidiki kaidah hukum sebagai pertimbangan nilai-nilai.”.

Menurut mahadi,” Filsafat hukum adalah falsafah tentang hukum, falsafah tentang segala sesuatu di bidang hukum secara mendalam sampai ke akar-akarnya secara sistematis.”

Soedjono Dirdjosisworo mengemukakan,”Filsafat hukum adalah pendirian atau penghayatan kefilsafatan yang dianut orang atau masyarakat atau negara hukum tentang hakikat ciri – ciri serta landasan berlakunya hukum.

Berdasarkan beberapa uraian diatas maka dapat ditarik intinya, yaitu :

  • Umumnya para pakar hukum sepakat bahwa filsafat hukum itu merupakan cabang dari filsafat.

  • Merupakan satu cabang ilmu yang mempelajari lebih lanjut setiap hal yang tidak dapat dijawab oleh cabang ilmu hukum.

  • Yang menjadi objeknya adalah hakikat atau inti yang sedalam-dalamnya dari hukum.


Dengan ungkapan lain, filsafat hukum adalah pembahasan filosofis tentang hukum.

Filsafat hukum islam atau falsafat al-Tasyri’ al-Islami, seperti halnya filsafat hukum dalam pengertian yang dikenal di lingkungan Fakultas Hukum di Indonesia. Filsafat hukum Islam dapat dinyatakan sebagai bagian dari kajian filsafat hukum secara umum atau dengan kata lain suatu ilmu yang mengkaji hukum Islam dengan pendekatan filsafat.

Filsafat hukum Islam sebagaimana filsafat pada umumnya menjawab pertanyaan – pertanyaan yang tidak terjangkau oleh ilmu hukum. Demikian juga filsafat hukum Islam seperti halnya tugas filsafat pada umumnya yang mempunyai dua tugas, pertama; tugas kritis, dan yang kedua adalah tugas konstruktif. Tugas kritis filsafat hukum Islam adalah mempertanyakan kembali paradigma-paradigma yang telah mapan dalam hukum Islam. Sementara tugas konstruktif filsafat hukum Islam adalah mempersatukan cabang-cabang hukum Islam dalam kesatuan sistem hukum Islam sehingga nampak bahwa antara satu cabang hukum Islam dengan lainnya tidak terpisahkan. Dengan demikian, filsafat hukum Islam mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti : Apa hakikat hukum Islam, hakikat keadilan, hakikat pembuat hukum, tujuan hukum, sebab orang harus taat kepada hukum Islam dan sebagainya.

Dapat dipahami bahwa filsafat hukum Islam adalah pengetahuan tentang hakikat, rahasia, dan tujuan hukum Islam baik yang menyangkut materinya, maupun proses penetapannya. Atau juga filsafat yang digunakan untuk memancarkan, menguatkan, dan memelihara hukum Islam, sehingga sesuai dengan maksud dan tujuan Allah menetapkannya di muka bumi, yaitu untuk kesejahteraan umat manusia seluruhnya. Dengan filsafat ini, hukum Islam akan benar-benar cocok sepanjang masa.

Sesuai dengan watak filsafat, filsafat hukum Islam berusaha menangani pertanyaan – pertanyaan fundamental secara ketat, konsepsional, metodis, koheren, sistematis, radikal, universal dan komprehensif, rasional serta bertanggung jawab. Arti dari pertanggung jawaban ini adalah adanya kesiapan untuk memberikan jawaban yang objektif dan argumentatif terhadap segala pertanyaan, sangkalan, dan kritikan.

Dalam kaitan diatas, dapat dikatakan bahwa dua hal para pakar filsafat hukum Islam dituntut untuk memikirkan hukum Islam. Pertama, kepentingan manusia/masyarakat yang mendambakan keselamatan dan kesejahteraan umum, hidup damai dan perlakuan adil secara merata, yang mendorong timbulnya hukum agar kehidupan menjadi stabil. Kedua, tekanan – tekanan yang langsung atau tidak langsung karena terjadinya perubahan ukuran atau nilai – nilai dari kepentingan masyarakat itu sendiri akibat pengaruh kemajuan teknologi, selera, dan lain – lain, yang pada gilirannya menuntut adanya penyesuaian – penyesuaian atau perubahan – perubahan hukum yang mengaturnya menuju ketertiban sosial.

Objek dan Manfaat Filsafat Hukum Islam.

Adapun yang  menjadi objek filsafat hukum Islam adalah meliputi objek teoritis (Falsafat Tasyri) dan objek praktis (Falsafat Syari’ah). Objek teoritis hukum Islam adalah objek kajian yang merupakan teori – teori hukum Islam yang meliputi :

  1. Prinsip – prinsip hukum Islam (Mabadi’ al-Ahkam)

  2. Dasar – dasar dan sumber – sumber hukum Islam (Mashadir al-Ahkam)

  3. Tujuan hukum Islam (Maqashid al-Ahkam)

  4. Asas – asas hukum Islam (Ushul al-Ahkam)

  5. Kaidah – kaidah hukum Islam (Qaqa’id al-Ahkam)


Sementara objek praktis filsafat hukum Islam adalah :

  1. Rahasia – rahasia hukum Islam (Asrar al-Ahkam)

  2. Ciri khas hukum Islam (Khasha’is al-Ahkam)

  3. Keutamaan hukum Islam (Mahasin al-Ahkam)

  4. Karakteristik hukum Islam (Thawabi’ al-Ahkam)


Manfaat studi filsafat hukum Islam adalah :

  1. Menjelaskan bahwa kajian filsafat hukum Islam akan memberikan pengetahuan hukum Islam secara utuh kepada ahli hukum yang mengkajinya.

  2. Filsafat hukum Islam diperlukan untuk pengkajian secara lebih mendalam terhadap hukum Islam.

  3. Mewujudkan hukum yang berkeadilan yang senantiasa sesuai dengan kondisi zaman.

  4. Pengkajian filsafat hukum Islam memungkinkan pemahaman Islam secara menyeluruh (kaffah) dengan ketertarikan dan hubungan yang terjalin dengan ilmu – ilmu agama lainnya.

Belum ada Komentar untuk "Filsafat Hukum Islam"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel